Mimpi Bertemu Rasulullah

Desember 20, 2012

Tentang satu tahun lebih yang lalu, seperti biasa sepulang dari kantor aku makan malam, lalu mengistirahatkan fikiran yang biasanya dengan cara melamun aku lakukan hingga larut malam tiba, setelah mulai merasa bosan dengan lamunan akhirnya aku putuskan untuk beranjak bergerak untuk wudhu lalu sholat isya sekitar pukul 11 malam, selama sholat isya berlangsung entah mengapa pada waktu itu berasa sangatlah khusyuk padahal baru jam 11 malam dan biasanya aku sholat isya selalu diatas pukul 12 malam.

Usai sholat isya setelah berdzikir lalu berdoa seperti biasanya, tiba-tiba aku enggan untuk beranjak dari tempat sholat, duduk termenung, hening, tidak ada suara yang menemani ketika aku merasa sendiri di atas sajadah, dengan tanpa disadari bayang-bayang dosa-dosa yang telah lalu, yang semakin terbayang adalah aku bersyukur tidak sampai berbuat dosa-dosa besar seperti mabuk, judi, zina, dan entah berapa kali aku merasa diselamatkan oleh Allah untuk tidak sampai berbuat hal-hal hina seperti itu. Tiba-tiba juga teringat Rasulullah utusan Allah yang menghantarkan ajaran-ajarannya yang baik kepada umat manusia, kembali lagi aku harus tersungkur meratap segala kesalahanku yang berbanding terbalik dengan ajaran-ajaran Rasulullah yang mulia itu, memohon ampun kepada Allah, menyesali perbuatan kesalahan kepada Rasulullah, jika Allah enggan menerima taubatku, jika Allah enggan mengakui diriku sebagai makhluk yang diciptakanNya, lalu kemanakah aku harus berpegangan dari semua yang telah berjatuhan, dan sekali lagi aku terus memohon keselamatan bagi Rasulullah sebagai pembawa risalah kebaikan, memohon kepada Allah untuk melimpahkan segala keselamatan yang hendak Allah berikan kepadaku untuk segera Allah wariskan keselamatan itu hanya untuk Rasulullah, ketidak adanya wujudku sebagai hamba yang diakui Allah, Aku pasrah, terserah kepada Allah mau diapakan hamba yang kurang ajar ini, padahal sudah jelas arti pada kalimat Hauqallah yaitu ketidak adanya manusia, ketidak mampuannya manusia jika Allah tidak berkehendak, tapi aku diciptakan lalu sombong, hamba macam apa aku ini.

Ternyata tangisan demi tangisan beriring sholawat kepada Rasulullah, cucuran air mata yang entah bagaimana mata ini masih mampu mengeluarkannya dan telah lelah dibuatnya hingga akhirnya akupun tertidur dengan lelap, bunga tidur bagiku sangat jarang sekali terjadi tapi pada malam itu aku tengah bermimpi sedang berdiri di luar pada suatu sudut di depan pintu gubuk beratapkan pelepah kurma, dan tembok berdiri kokoh dengan bebatuan kapur berwarna putih kecoklatan, disitu aku sedang duduk tersandar pada tembok pagar yang juga tersusun dari batu-batuan kapur berwarna coklat lalu terkadang berdiri sambil tertunduk juga sambil melihat ke sekeliling seakan sedang menunggu kedatangan seseorang, didalam mimpiku itu aku sedang merasa takut, gundah, kebingungan, terdiam, was-was semua bercampur menjadi satu, lalu tak lama kemudian datanglah rombongan 5 orang pria sedang berjalan jauh mengarah ketempat aku berada, setelah sesampainya 4 orang pria berdiri berhenti di dekat rumah gubuk itu, lalu satu orang pria diantaranya datang menghampiriku, wajahnya teduh, berjanggut rapih, kulitnya bersih, alisnya tebal, matanya bagus dan besar, pandangannya tajam, saat itu yang aku yakini dia adalah Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah, dan dia tiba-tiba menjabat tanganku dan menunjukkan sesuatu kepadaku sambil berkata “Assalamu’alaikum…Perkenalkan beliau ini Rasulullah”, Aku terperangah menatap wajah Rasulullah yang indah, Allahu Akbar…Masya Allah… perasaan tidak percaya, perasaan tidak mungkin, perasaan bahagia, perasaan sedih, perasaan malu bercampur menjadi satu, ketika Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah memperkenalkan aku kepada Rasulullah, lalu Rasulullah menatapku dengan raut wajah yang bahagia, wajah yang teduh, Beliau tersenyum agak lama kepadaku lalu tertunduk malu sambil berjalan memasuki gubuk melalui pintu yang aku berdiri didepannya bersamaan dengan 4 pria lainnya yang aku yakini mereka adalah 4 sahabat Rasulullah yaitu Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar RA, Sayyidina Utsman RA, dan Sayyidina Ali KW.

Wajah Rasulullah begitu indah, memang betul, wajah beliau lebih indah dari bulan purnama yang kemerahan, wajah beliau tidak seperti wajah orang arab pada kebanyakan, tidak juga seperti wajah orang Asia, bukan juga orang Eropa, atau Amerika, tingginya sesuai, dadanya bidang, sendi-sendinya kokoh, rambutnya sedikit panjang, dan jika berjalan seakan condong kedepan seperti berjalan tanpa beban, persis dengan gambaran-gambaran yang telah diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah. Sebangunku dari tidur yang aku fikirkan adalah apakah benar beliau itu Rasulullah? jika memang benar Beliau itu Rasulullah lalu siapalah aku sampai-sampai Rasulullah mau menemuiku? Apakah tidak ada yang lebih pantas ditemuinya selain diriku walau itu hanya dalam mimpi?, Aku semakin merasa malu atas segala kesalahanku yang banyak mengabaikan sunnah-sunnahnya, Aku semakin merasa malu kepada Allah karena aku telah banyak ingkar kepada-Nya, hingga saat ini aku masih merasa sangat tidak pantas untuk ditemui Rasulullah walau hanya dalam mimpi, apalagi jika harus bertemu langsung dengan Beliau, Apakah pantas orang sesombong, sekotor, dan sehina ini menatap wajah Rasulullah?, Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah..

Asholatu wassalamu alaika Yaa Sayyidi Yaa Rasulallah, Khudz biyadi qollat hilati adrikni….Allahumma Sholli alaa Sayyidina Muhammad.

Illahi lastu lil firdausi ahlaan Wa’ala Aqwa ‘alannaril jahiimi Fahabli taubatan waghfir dzunubi Fainnaka ghafirudz dzambil ‘adziimi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: