Langkah Terakhir

November 9, 2012

Aku dengan segera dipaksa untuk tertunduk dengan apa yang orang namakan “Takdir”
Lukisan garis tangan itu pun semakin jelas terlihat,
Tak perlu kalian ajarkan Aku tentang bertanggungjawab
Kalau Aku boleh memarah, Aku ingin memarah dan bertanya keras kepada TuhanKu
Mengapa Engkau karuniakan Aku berupa hati yang halus? Bertolak belakangkah dengan keinginanku yang sangat Keras memaksa?
Mengapa banyak orang berkata itu adalah Musibah? Tapi mengapa Aku harus berkata bahwa ini adalah Amanah?
Tak jua habis air mata ini menggores pipi, Tak lekang renta kelopak mata ini meratap.
Memang air mata itu tak abadi yang akan hilang lalu berganti.
Kesabaran dan keikhlasan selalu ku mohon kepada Allah satu-satunya Tuhanku.
Aku tak butuh Pahala, Ambillah pahala-pahalaku.
Yang Aku takut adalah dosa yang tak Kau ampuni.
Aku tak butuh kemuliaan, Karena yang kutakutkan adalah Engkau Murka lantaran Aku tak bisa mengemban Amanah yang berat ini.
Dunia oh Dunia.. kau memang tak pernah berpredikat Abadi.
Duhai Akhirat, Aku mendambamu.
Yaa Allah, Wafatkanlah Hamba dengan kebaikan.
Kini ku tahu bahwa Keimananku diuji, Ketaqwaanku dicoba, Keislamanku ditempa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: