Sakralnya Skripsi

Januari 5, 2012

Skripsi itu sebelum resmi ikut bimbingan rasanya semangat setengah mati, Angan-angan tergolong melambung tinggi, bayangan mengenakan Toga dikemudian hari selalu terngiang-ngiang, rasa ingin segera usai perkuliahan begitu menggebu, ide cemerlang tentang skripsi kian meletup-letup. Tapi entah mengapa setelah resmi mendaftar bimbingan terstruktur semua ide semua semangat semua angan-angan dan semua bayangan indah tiba-tiba puff menghilang tak lagi terlihat jejaknya, beban fikiran, tekanan ahh.. masih terasa hingga kini.

Hari itu telinga Gw diberikan sebuah wejangan yang tidak disengaja berhasil menyerempet hati Gw, seorang Dosen Pembimbing untuk jurusan SI (Sistem Informasi) berkata “Kalau masih dalam proses Skripsi sebaiknya perbanyaklah beramal dan berdoa”.. Ahh semakin menggalau persatuan dan kesatuan di hati Gw, sebegitu “Sakral” kah “Skripsi” ?, menit, jam, hari, minggu, telah Gw lalui begitu saja tanpa sebuah pergerakan. Sebuah kebodohan Gw yang baru Gw sadari adalah ternyata Skripsi seharusnya sudah dipersiapkan setidaknya sedari 6 bulan sebelum Sidang terjadi, tapi Gw mempersiapkan Skripsi hanya 2 bulan sebelum Sidang terjadi (kenyataannya waktu banyak terbuang karena kegalauan dan kira-kira hanya 1 bulan efektif pengerjaan Skripsi). Sebenarnya masalah waktu itu hanya kebodohan Gw yang gak tau menau masalah kapan waktu sidang, dan kapan jangka waktu penyusunan Skripsi. Dan padahal Gw ada rencana membuat Sistem yang gak mungkin dibuat oleh seorang mahasiswa yang hendak meraih gelar sarjana (sebuah pemikiran penyusunan sistem yang sempurna), dan akhirnya kandas karena masalah waktu, waktu dan waktu

”Rasulullah SAW. Bersabda:”dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)

Akhirnya sampai pula sebuah ide sederhana untuk maha karya Skripsi, seiring perancangan sistem dengan segenap tenaga dan fikiran dikerahkan untuk menulis paragraf demi paragraf penulisan Skripsi, rasa buntu, penat, ogah, emoh, males, pengen muntah, dan tak ayal mimisan bisa terjadi, itu semua sepertinya menjadi lumrah pada Mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun Skripsi. Awalnya Gw gak yakin kalau judul, abstraksi, maupun konsep rancangan sistem Gw bakal diterima oleh Dosen Pembimbing karena Gw sendiri menganggap konsep rancangan sistem Gw terlalu sederhana (Gw sendiri menganggap seperti itu), fikiran Gw waktu itu gak tentu arah setelah mengajukan judul Skripsi dan Dosen Pembimbing menerimanya tanpa banyak bertanya. Entah tepatnya kapan fikiran tak menentu itu berhasil Gw sudahi, dan mulai berfikir dan melihat ke depan, apapun yang terjadi harus maju, dan setiap menitnya harus ada perkembangan mengingat waktu efektif penyusunan hanya sebulan lamanya.

Penulisan bab demi bab telah diajukan ke Dosen Pembimbing dan diperiksanya, banyak kesalahan dalam penulisan, banyak format penulisan yang tidak sesuai panduan, kalimat, susunan algoritma, gambar, tabel, dan sebagainya. Ya jujur aja, Gw paling gak suka protokoler, melakukan sesuatu sesuai dengan norma panduan, padahal itu penting, mungkin karena otak Gw yang telah teracuni fikiran seorang praktisi, setiap kali revisi membuat Gw semakin down, kalau hanya revisi penulisan itu belum seberapa rasa jatuhnya, yang lebih terasa yaitu ketika Dosen Pembimbing meminta untuk revisi program, minta ini minta itu minta inian minta ituan minta onoan minta anuan, Selama penyusunan Skripsi baik penulisan maupun rancangan sistem sempat 2 kali mengalami down, dan 2 kali pula mengalami patah semangat mendekati kata “MENYERAH!”.

Bagaimana tidak “Menyerah”, bayangkan saja, dalam jangka waktu 2 Minggu sebelum upacara Sidang berlangsung, banyak hal-hal aneh yang terjadi. Yang pertama, dalam penulisan sudah Gw cari setiap kata-kata asing yang seharusnya dicetak miring dan sudah Gw pastikan semua tidak ada lagi yang salah, serta jarak spasi antar baris tulisan yang seharusnya 1 spasi sudah Gw laksanakan tapi apa yang terjadi? setelah Gw serahkan ke Dosen Pembimbing masih juga Gw menemukan banyak-banyak kesalahan yang sudah Gw pastikan gak ada lagi kesalahan tersebut, kejadian yang kedua tepat seminggu sebelum Sidang berlangsung yaitu server yang akan Gw gunakan buat Sidang ternyata hancur lebur karena sebuah kesalahan command unix yang Gw eksekusi sehingga mengakibatkan seluruh fungsi sistem server Gw gak berfungsi, terasa mandul, akhirnya Gw harus recovery sistem sambil meratapi, dan mata yang sedikit berkaca-kaca dan terkadang dalam perjalanan pulang ke rumah dibalik helm pun bisa mengeluarkan kristal-kristal air mata diiringi bibir melantunkan dan melirih kata “Aku menyerah”, Sesampainya di rumah, Gw berfikir, bagaimana perasaan orang tua kalau anaknya menyerah, pasti akan kecewa walaupun mungkin sedikit rasa kecewa itu muncul. Dan tak jarang selama tiga hari berturut-turut hanya tidur selama 6 jam. Puncak rasa tidak semangat ketika Gw yakin sudah mencetak bab satu hingga bab lima tapi sesampainya di depan Dosen Pembimbing yang Gw perlihatkan ternyata 2 buah bab tercetak ulang yaitu bab tiga, sedangkan bab empat tidak tercetak, Ahhh.. rasa malu, semakin patah semangat, tidak ingin beranjak pergi, tidak juga ingin berdiam diri, buntu. Lalu pada kejadian lain yang membuat Gw semakin ingin mensudahi penyiksaan ini adalah 4 hari sebelum Sidang, Dosen Pembimbing meminta revisi program. Dalam hati hanya berfikir tak berhenti “Ya Allah, ada apa dengan Dosenku ini, ada apa dengan programku, penulisanku”.

Pada tanggal 3 Januari 2012 pukul 09.30 pagi hari Sidang berlangsung, tidak ada lagi waktu untuk belajar, memasuki ruang sidang dengan sedikit bergetar, ruangan yang dingin dan rasa hampa mulai terasa, ketakutan, keringat dingin, dan tak lama hadir 2 orang Dosen penguji dan seorang Dosen Pembimbing Gw memasuki ruang sidang, dan Gw memulai presentasi dengan awal senyuman yang entah apa arti senyuman Gw saat itu, mungkin senyuman mengalihkan rasa canggung, mungkin senyuman yang mengalihkan rasa ketakutan, mungkin senyuman yang mengalihkan rasa patah semangat, dan mungkin juga senyuman itu mengalihkan rasa malu dan banyak kebodohan, atau mungkin senyuman yang bermaksud mencitrakan diri sedang tenang. Bibir halus terbata-bata mengucapkan setiap kalimat presentasi, sepertinya Dosen mulai jenuh dengan presentasi Gw saat itu, hingga Dosen Pembimbing menyuruh Gw untuk langsung saja ke BAB V yaitu PENUTUP, sehingga selanjutnya adalah demo program.

Dosen penguji selalu bertanya “ini program kamu buat sendiri atau dibuatkan orang lain?” dan Gw selalu menjawab “Saya buat sendiri Pak, bagaimana Pak? ada apa?”, Akhirnya Gw diberikan satu buah soal untuk merubah program, Alhamdulillah separuh dari permintaannya berhasil Gw kerjakan hingga waktu Sidang berakhir. Masalah nilai atau lulus dan tidak lulus Gw serahkan semua sama Allah, terserah takdir mau berpihak kearah mana, jika lulus Alhamdulillah dan jika tidak lulus juga tidak apa-apa, karena Gw juga menyadari banyak kekurangan dan ketidaksiapan yang seharusnya Gw persiapkan secara matang jauh-jauh hari. Dua orang Dosen Penguji dan Dosen Pembimbing pun pergi, lalu tak lama kembali ke ruang sidang lalu memberitahukan Score hasil Sidang, Dosen Penguji mengumumkan dengan gaya indonesian idol, sedikit menunduk lalu berkata “Mas Faiza, hasil sidang Anda..mmmmmMMmmmmm.. cukup Baik, di dalam lembaran Skripsi Anda ada Score hasil sidang, jika Mas Faiza kurang puas bisa protes kebawah, dan Selamat Mas Faiza dinyatakan Lulus”, sekilas Gw berfikir akan mendapatkan predikat C pada score hasil sidang, ternyata Alhamdulillah Ya Allah, Gw mendapatkan predikat B dan score mendekati nilai A.

Terima kasih kepada siapapun yang telah banyak membantu kelancaran Skripsi ini, Allah, kedua orang tua, kedua adik tercinta, dan semuanya.

Dosen penguji yang baik hati, Dia tidak melihat kesempurnaan Sistem, tapi Dia menghargai sebuah proses pencapaian kepada hasil akhir perjuangan. Dosen pembimbing yang sering kali membuat kecewa dan patah semangat ketika proses penyusunan Skripsi, tapi melalui Dia lah Gw semakin memahami apa dan bagaimana Tawakkal itu seharusnya. Sarjana bukanlah ajang unjuk Gigi, tapi sebuah tahapan untuk pendewasaan disiplin ilmu. Semoga Allah memberikan rahmat yang sempurna kepada Dosen-Dosen yang baik hati dan menghargai nilai perjuangan.

Skripsi itu membuat lupa makan, lupa mandi, lupa tidur, terkadang nyaris lupa sholat, lupa cukur kumis, lupa cukur jenggot, lupa sikat gigi, lupa cukur rambut, tapi dia gak akan pernah lupa tanggal sidang.

Tak ada yang lebih menyiksa selain Skripsi.

Iklan

2 Tanggapan to “Sakralnya Skripsi”

  1. liez Says:

    Selamat-selamat.. tinggal nunggu wisuda kak..
    Doaken juga ya smg segera usai penderitaan kkp ini >.< *pdhl baru kkp yak* 😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: