Antara Aku, Kamu, Mereka dan Jakarta

Januari 10, 2011

Jakarta, siapa yang tidak tahu Jakarta, Kota metropolitan beribu ragam macam bentuk didalamnya dari gedung bertingkat-tingkat hingga pemukiman kumuh bantaran kali yang tak terlewat. Entahlah, darimana wacana ini harus dimulai, tapi mungkin dengan memberikan sedikit gambaran apa itu Jakarta, seperti apa dimata penggemarnya, seperti apa wujud mimpinya, seperti apa wujud aslinya, seperti apa karakternya, dan seperti apa sikap yang seharusnya  semoga mampu mengejawantahkan pokok fikiran yang sebenarnya.

Jakarta, dimata penggemarnya, menurut penuturan pembantuku (PRT)  adalah suatu tempat dimana banyak orang kaya bermukim, bekerja, menikmati dunia, hidup dengan musik, berbelanja, tertawa, berkumpul bersama teman-teman, restauran dan cafe adalah tempat berkumpul, dia berfikir setiap rumah di Jakarta memiliki kolam renang, mobil mewah, buah-buahan segar dihidangkan seperti anggur, apel, dll, Gaji besar, Rumah Mewah, ber-AC. Lain lagi kata kerabatku dari kampung yang notabene lulusan S1, Dia berfikir bahwa Jakarta itu sibuk, berorientasi dengan uang, sekuler, gaya hidup yang mapan, berparfum berkemeja bersepatu yang  mahal-mahal, berfikir cepat, berfikir lebih maju, berfikir tentang persaingan, berfikir tentang jabatan, berpendidikan, dan inovasi. Nah.. lain lagi penuturan kawanku dari kota kembang, Aku hanya bertanya sedikit padanya “Menurutmu Jakarta itu bagaimana sih?”, dan dia pun menjawabnya dengan singkat padat dan jelas “Wah.. klo kata orang sini mah, gawe di Jakarta bisa kolot di Jalan”.

Nih..nih.. Ada satu lagi, Dia adalah kerabat dekatku asal kota gudeg Jogjakarta, awalnya aku yakin sekali bahwa Dia adalah orang yang kuat, mampu bertahan hidup pada proses seleksi alam di Jakarta, karena aku pun tau memang Dia sudah dibiasakan hidup mandiri di Jogja. Kali itu Dia mendapat panggilan untuk interview di salah satu Bank swasta di Jakarta, yap.. secara instan ku suruh singgah di tempat tinggalku sementara, dirumahku aku beri Dia pengarahan mengenai kendaraan umum yang bisa digunakan menuju lokasi panggilan interview, dan esok harinya Dia terlihat cerah, sedikitpun tidak canggung, dandanan Necis, harum parfum eksekutif sering kali melesat melewati penciumanku, warna capucino pada kemeja yang sepadu padan dengan warna celana panjangnya berwarna coklat tua menambah pesona percaya dirinya semakin terlihat, Dia pun berangkat disertai senyum merekah tiada jemu nya. Hari itu pun berlalu dengan cepat, sesampainya Dia dirumahku, kulihat wajah yang tadi pagi berseri berubah menjadi kelabu, tak ada aura, tak ada semangat, lelah, jenuh, pandangan kosong dan sebagainya, ya dia semakin terlihat persis seperti orang-orang Jakarta pada umumnya dan tidak lagi membawa identitas wajah Jogjanya, yang selalu ceria dan identik dengan pandangannya yang bermakna,  setelah melepas sepatu kulitnya langsung ku sapanya “Gimana mas?? “, Dia menjawab “Wah wis..  kacau..” (sambil menggelengkan kepala), aku kembali bertanya “Wah.. Kacau piye mas?”, Dia menjawab “Aku sampe sana telat.. Keringetan.. lusuh lah pokoknya..”,  “Trus..trus..?” tanyaku penasaran, “Kerjaannya gak jelas.. Gajinya juga proporsional tergantung kitanya.. pake target juga.. ck..” jawabnya dengan lesu, “Wah.. trus gimana mas? ”  tanyaku kembali, “Yaa gitu lah.. ntah lah.. lihat nanti aja.. Hapeku juga hilang di Bus tadi..” jawabnya sedih, “Wha..? edan.. tenane mas? ke copet opo piye?” (Wha..? gila.. yang bener mas? ke copet apa gimana?) tanyaku, “Hu-uh.. tenan, mbuh kecopet opo tibo nandi..ck..” (Hu-uh.. bener, gak tau kecopet apa jatuh dimana..ck..) jawabnya semakin sedih, “Trus gimana mas? mo ke Jogja apa disini dulu cari-cari tempat lain?” tanyaku memberi semangat, “Wah.. ndak tau lah.. kayaknya lusa aku tolak ke Jogja aja, disana juga ada kerjaan ya walaupun cuma receh.. tapi lebih tenang, Kamu ndak lihat aku mukaku pucet begini? gak tahan aku dijalanan Jakarta kaya begitu..” jawabnya beralasan, “Hehehe.. ya begitulah Jakarta mas.. Sekejam-kejamnya ibu tiri masih kejam Ibu Kota, aku yo gak bisa nolong apa-apa mas..” statementku menyadarkannya, “Hahaha.. Iyo.. Jakarta kok koyo ngene yoo.. edan tenan..” jawabnya tersadar.

Cerita lain dari temanku asal Solo Jawa Tengah, ia hanya mengungkapkan sedikit perasaan dari sekelumit kata-katanya yang lugu “Aku gak betah Mas di Jakarta, klo di Solo bangun pagi itu masih bisa minum Teh dulu, sarapan dulu, lha aku ini udah ngekost deket kantor setiap bangun pagi yang ku inget cuma masalah kerjaan, suntuk, jenuh, terburu-buru..duh… aku bener-bener gak betah’e mas neng Jakarta iki.. aku arep muleh ae mas..”, Aku hanya menanggapinya dengan sedikit senyuman seraya berkata “Yoo.. sabar aja.. nanti juga ada waktunya pulang ke Solo, kamu baru beberapa bulan disini udah kayak gitu.. lha gimana Aku?? udah taunan di Jakarta kayak begini, kamu tinggal ngesot dari kost.. lha aku? 25 KM harus ditempuh naik motor, Macet, berdebu, panas, berasap, masalah kerjaan, lelah, ini, itu…, tapi coba lihat orang-orang Jakarta itu yang kamu lihat, mereka tetap tegar, tangguh, walau bagaimana pahitnya, susahnya, getirnya, sakitnya, mereka tetap harus cari uang.. uang.. dan uang.. mereka harus menghidupi keluarganya, memberi nafkah, memberi makan, menyekolahkan, menabung untuk masa depan, merencanakan masa depan, jenuh memang dan sudah pasti, tapi lihat.. mereka ditengah kejenuhan kelelahan kebosanan ketidakmampuan tapi mereka tetap punya Mimpi, mimpi itu sederhana sekedar ingin hidup layak tercukupi kebutuhan sehari-harinya.. ya seperti inilah Jakarta, makanya nanti klo kamu balik ke Solo seharusnya kamu bisa lebih prestatif dari orang-orang Jakarta.. ya tho? bener donk.. bener laah..”, Perempuan Kampung itu tersenyum dan menganggukkan kepala pertanda ia mampu dan menyanggupi.

Jakarta, dalam wujud mimpinya ingin menciptakan kota yang tertata baik seperti transportasi umum bus angkutan, kereta listrik, Busway, Monorail, waterway, layanan massa seperti rumah sakit, keamanan dari kejahatan dengan didukung personil pengamanan yang memadai, kesejahteraan, kenyamanan bertempat tinggal bekerja maupun bepergian, keharmonisan dalam bermasyarakat, kebersihan kota baik itu kebersihan jalan, taman hingga terdukungnya sistem saluran air yang tertata rapih, segala fasilitas komunikasi, kemakmuran dalam  pendapatan perkapitanya, sentra bisnis segala bidang pertanian perikanan perbankan transportasi darat laut maupun udara, sentra pendidikan segala jenjang, sentra kekuasaan, sentra pemerintahan.

Jakarta, dalam wujud aslinya Dia menampakkan kota yang siap bertanding, tak kenal pria maupun wanita, tua ataupun muda, semua berkarya, menunda berarti siap untuk sengsara, menyakiti berarti siap untuk disakiti, merusak berarti siap untuk dirusak, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terhempas angin, tahta semakin meraja, yang baik diusik dan yang jahat diangkat, well itulah Jakarta menurut pandanganku. Di Jakarta Hukum Rimba sudah pasti berlaku kontan,  sudah pasti yang kuat yang menang. Kakiku terlindas motor sudah lebih dari 10 kali, tapi tidak ada satu orang pelaku pun mencoba meminta maaf atau sekedar mengangkat tangan tanda meminta maaf, tidak sama sekali. Laki-laki muda dengan indahnya duduk dalam sebuah armada Transjakarta padahal matanya tidak buta dan melihat seorang Nenek Tua yang renta sedang lemah berdiri mencoba tegar, Pintu Keluar jadi pintu Masuk, Pintu masuk jadi pintu keluar dan juga pintu masuk. Copet semakin ganteng semakin tampan berdandan rapih, berkemeja, berdasi, bertas jinjing, berparfum aroma eksekutif. Jilbab tak lagi suci, tahta tak lagi bijaksana. Muakkah dengan JAKARTA? hahaha.. Menurut “Gue”, dari diri sendiri lah kita bisa membentuk Kharakter dan Akhlaq yang berbeda untuk Jakarta, Jakarta gak butuh orang Kaya, Jakarta gak butuh orang Angkuh, Jakarta juga sudah Muak dan iba melihat orang susah kesusahan, Jakarta itu ingin tenang, Jakarta ingin berkesan indah, Jakarta ingin jadi tempat bekerja yang nyaman dan kondusif, dan yang terakhir, Jakarta hanya butuh orang-orang yang Berempati.

 

 

Iklan

2 Tanggapan to “Antara Aku, Kamu, Mereka dan Jakarta”

  1. liez Says:

    biar gimana pun pahitnya jakarta, tapi ntah kenapa tiap bada’ lebaran masiii jg banyak yg migrasi kemari kan?.. #tanyakenapa

    ntahlah mungkin mereka menganut paham ‘koes plus’ -> “Ke jakarta aku kan kembali.. Walaupun apa yang kan terjadi”..

    😀 (LOL)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: