Api

Agustus 31, 2010

Kemarin tanpa sengaja di daerah Pasar Minggu gue berkendara motor lalu pengendara lain ada didepan gue dengan membawa 2 bungkus kembang api panjang di tas nya, hmm.. Sekilas gue berfikir dia adalah seorang Bapak yang ingin memberikan sedikit kesenangan pada anaknya dengan hiburan murah walaupun memang agak sedikit berbahaya. Dulu ketika gue masih kecil seinget gue gak pernah dibelikan petasan, dan seinget gue bokap gue cuma membelikan 2 bungkus kertas kecil berisi kembang api yang paling pendek, dan gue inget waktu meminta untuk dibelikan via telepon dengan merengek-rengek hingga nangis sesenggukan. Orang tua gue gak pernah setuju klo gue bermain api, petasan, kembang api, dan apapun namanya yang berkaitan dengan Api, termasuk rokok.

Walaupun memang gue tetep bandel, suka bermain api, ntah membakar kertas yang tak jelas, membakar petasan dari kelas terkecil hingga kelas enterprise, dan yang pasti itu semua gue lakukan dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan Orang Tua gue. Tapi kini gue baru tersadar, mengapa Orang Tua gue itu sangat melarang untuk  masalah bermain Api, Kata-kata Orang Tua yang selalu gue inget adalah membakar petasan sama dengan membakar uang, dan mungkin filosofi mengapa gue dilarang untuk bermain petasan adalah selain keselamatan akan bahaya, juga pemborosan.

Atau memang ada maksud lain, agar gue selalu ingat untuk tidak pernah bermain yang namanya Api dalam bentuk apapun dan mungkin termasuk Api amarah, maupun Api cinta, hingga Api asmara, dan sekali lagi, kadang-kadang emang gue suka bandel, suka gak nurut sama petuah Orang Tua, klo masalah Api cinta wah gak berpengalaman gue hahaha.. Dulu ketika gue sedang tiduran disamping ibu gue, tiba-tiba ibu gue bilang “Kamu jangan pernah berharap sama orang lain, dan Kamu jangan pernah memberikan harapan pada orang lain, karena harapan itu lebih dekat dengan kata kecewa, tapi manakala Cinta itu datang jangan pernah Kamu menolaknya”. Untuk 3 kalimat pertama masih mudah untuk gue cerna, tapi untuk kalimat yang terakhir dari sejak ibu gue bertutur hingga sekarang, gue masih belum mengerti, masih sulit untuk dipahami.

Waktu gue kecil ibu pernah sedikit berpesan “itulah Api, Kecil jadi Kawan, Besar jadi Lawan..” 😀

Iklan
%d blogger menyukai ini: