Sahur On The Road

Agustus 18, 2010

Sahur on the road kali ini berasa berbeda, dulu sahur on the road pernah gue ikuti oleh temen-temen rumah (komplek), ya gue akui dulu itu ikut sahur on the road hanya sekedar ingin bermain malam-malam, mungkin hanya sangat sedikit rasa empati yang gue bawa, sahur on the road kali ini telah membawa gue tentang tersungkurnya wajah hati gue yang penuh keangkuhan, yang penuh obsesi, yang pekat tentang angan-angan, lalu tiba-tiba terjatuh ke permukaan tanah. Awalnya SoTR ini gue juga gak tau kapan akan dilaksanakan, tiba-tiba dikasih kaos seragam, dan tiba-tiba disuruh ikut.

Rute yang dilalui adalah dari kantor Salemba, Cikini, Senen, Kramat Raya, Salemba lagi. Well.. gue ketibanan Kamera kantor, clingak-clinguk bingung, baiklah, sekali-sekali jadi dokumentasi, secara instan gue jadi tukang jepret setiap transaksi pemberian nasi kotak kepada pihak yang membutuhkan terjadi.

Sampailah pada penerima ini (gambar diatas), dia dibangunkan ketika sedang terlelap tidur didalam alat mencari nafkahnya, yup.. seperti apa yang terlihat pada gambar yaitu bajaj, dia sedang beristirahat di pinggir jalan Salemba. Sedikit sapaan pun terjadi.

Gue: “Assalamualaikum Pak.. Assalamualaikum.. Maaf Pak Mengganggu.. ini ada sedikit makanan untuk sahur..”

Dia: “Walaikumsalamm.. Eh iya.. Sahur ya.. terima kasih sudah dibangunkan.. Ya Allah.. terima kasih sudah dibangunkan.. Alhamdulillah..”

SHIT.. mata gue meneteskan airnya, Setelah pengambilan foto diatas mata gue selalu berkaca-kaca, yang sedari tadi dihiasi canda tawa tapi setelah itu tidak, gue disuguhkan wujud manusia yang berucap dengan tulusnya, seketika cita-cita tinggi gue hilang, seketika hasrat tawa gue basi, seketika keangkuhan, dan kenikmatan yang saat itu gue peroleh terasa hambar. Teringat cerita teman sebelum berangkat SoTR, beliau bercerita tentang nasihat seorang bandar judi togel “Heh.. lu liat tuh orang-orang yang dipinggir jalan, yang dikolong jembatan, yang dibawah lampu merah, yang tinggal ditempat kumuh gak pantes ditempatin, mereka makan apa? pernah gak loe perhatikan mereka makan apa? trus siapa yang harus perduli klo bukan kita-kita? klo dia gak makan nasi trus suruh makan apa? hah? TAI?”, sesak dada gue, dan kenapa gak mereka-mereka yang berdasi, bermobil mewah, bergaji besar, komisaris, direktur atau apalah sebutannya, yang membagikan nasi kotak ini ke mereka? apakah mereka bisa berempati? dan apakah mereka masih mampu menelan makanan mewahnya? udara rupiahnya? masih mampukah menikmati kursi empuknya dan fasilitas-fasilitasnya?

Dan bisakah kita menerka, kenapa dia tidak pulang ke rumah, dia lebih memilih tidur di bajaj nya ketimbang harus pulang ke rumah dan bertemu anak istrinya? mungkinkah dia malu jika dia pulang ke rumah tapi tanpa hasil yang bisa dibagi? mungkinkah dia pantang pulang sebelum membawa uang? atau mungkinkah sudah setua itu dia hidup sebatang kara, tak punya sanak saudara, tak punya tempat untuk meneduh kecuali bajaj sewaannya sebagai tempat bernaung dari panas dan hujan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: