Defrag Part II

Juni 11, 2010

Ahh sudah sebulan lebih gue gak posting di blog kesayangan ini, dan tanpa gue sadari ternyata mata gue berkaca-kaca hingga meneteskan embunnya karena sangking rindu pada blog ini, Ya Allah.. betapa hebatnya Engkau yang telah menciptakan sosok Matt Mullenweg sehingga gue bisa mencurahkan sebagian isi hati ke dunia maya yang entah siapa yang membacanya, hingga saat ini gue masih berharap Almarhum ibu bisa membaca blog bodoh gue ini. Sudah lah.. kita mulai saja proses defrag ini.

——–Begin Here———

Semakin hari dirasa semakin membosan dan meracau, rasa semangat fluktuatif, sering bangun kesiangan, makan tidak teratur, keseimbangan dan keadilan berkurang, muak dengan peraturan, muak dengan pencekalan, muak dengan segala pembatasan, muak dengan pelecehan, muak akan pemicingan, muak akan kebohongan. muak akan kemunafikan, muak akan ketidak perdulian, muak akan kesenjangan, antara ceria atau bermuram durja, antara bahagia atau sengsara, antara prestasi atau imajinasi, antara cinta atau bencana, antara dusta dan nista, antara kotor dan busuk, antara cepat atau lambat, antara suka atau tidak suka, antara tertarik atau muak, ahh terlampau kompleks. Ada yang memicingkan matanya, antara kuning dan biru. 😀 masalah kian kompleks, bukan hanya yang terjadi di diri sendiri, tapi masalah orang lainpun gue harus mendengarkannya, bukan karena gue yang ingin mendengarkan, tapi karena keadaan memaksa demikian, kasus perselingkuhan, hasud, iri, dengki, gak luput dari warna-warni kehidupan teman. Haruskah menutup kuping, mata, dan mulut? sementara kawan berteriak kesakitan. Bertanya akan masalah keluarga, padahal jangankan berkeluarga, masalah cinta aja gue sangat awam. Ahh jadi bad mood, seakan kerja tidak penting, hanya karena berorientasi pada kehormatan, dan tradisi kehidupan, sufistik sebenarnya bisa menjadi alternatif, untuk apa ku kejar dunia kalau dunia dan nyawa itu harus binasa dengan waktu. Langkah serasa banyak yang sia-sia, waktu banyak yang terbuang percuma, tak banyak hakikat yang gue peroleh, mungkin kesibukan kerja, kuliah, dan masalah dunia lainnya yang membuat hidup serasa tak bermakna, dan sayangnya satu detikpun gue gak mampu menundanya, duh.. berisik banget nih lingkungan, kayaknya gue tetep harus arrange schedule buat ambil cuti, Sabtu Minggu gak ada liburnya, Sabtu kuliah, Minggu mbenerin genteng lah, ngurusin taneman lah, ngurusin motor dari yang service sampe cuci motor, yang harus berkunjung ke sanak saudara, trus kapan gue istirahatnya?, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak tanpa beban, tapi entah kenapa, masih sulit, terkadang masih tertahan, psikis fluktuatif, barometer mood gue cukup bisa dilihat dari ringtone hape, rambut dicat? gak boleh? kepala-kepala gue… Saat ini keluarga adalah yang terberat, gue harus tetap mengawasi, semua memiliki kekurangan, dan semua harus saling mengingatkan, kenapa penyakit mengerikan selalu menyerang orang-orang yang baik hatinya dan santun budi pekertinya, kenapa tidak Kau beri rasa sakit itu ke manusia-manusia yang membuat kerusakan dimuka bumi yang menyakiti hati manusia lainnya, tenang.. ini bukan wujud ketidakpuasanku, ini hanya aku yang ingin membuat sebuah wacana, rasa empati gue gak lagi bisa terbendung, jadi maaf jika cara gue bisa jadi salah menurut pengamatan orang lain, atau bahkan dari Engkau sekalipun, Ya inilah aku, aku yang telah Kau ciptakan dan Kau lahirkan kemuka bumi, aku faham, mana yang harus kupatuhi dan mana yang harus ku enyahkan, tapi aku juga bangga, aku juga bahagia, dan aku sangat bersyukur atas doa-doa ku yang telah Kau approve, dan aku juga tidak penasaran atas doa-doa ku yang sekarang Kau pending, aku bingung ingin membalas budiMu, aku juga bingung ingin membalas rasa nikmatMu yang telah kau anugrahi dalam hidupku, kau adalah Dzat yang maha hebat, tidak ada satu makhlukpun mampu menginterupsiMu, aku tidak ada bentuk dan ukuran diantara segala penciptaanMu, Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku nanti adalah makhluk-makhlukMu yang pandai bersyukur, yang pandai menghamba, yang pandai mencintaMu. Banyak orang yang mengira gue lebih tua dari dirinya, dia menaksir umur gue sekitar 29 Tahun (lebih tujuh tahun pada kenyataannya), ketika gue bertanya apa sebab? dan dia menjawab, bicaraku terlampau lebih tua dari usiaku sebenarnya, lebih dewasa dari seumuran gue, pengalaman dan usia ternyata tidak sebanding. Ada yang lebih aneh lagi, gue yang masih belia ini dianggap sudah berkeluarga hahahaha… sedewasa itukah gue? sepantas itukah gue?. Kuliah harus cepet selesai nih, masalah demi masalah harus terselesaikan semua, duh.. Nikah yak? hmm… gimana yak..? umur, gaji, status pendidikan, masa depan, faktor penentu semua tuh.. seandainya Rasul tidak men-sunnahkah untuk menikah, mungkin gue masih bisa meng-enyahkan hasrat itu, toh ada cara lain menuju cinta abadiNya, toh ada cara lain mengasyikkan diri dalam alunan cintaNya, toh tujuan terakhir itu Akhirat juga khan??, gue gak bisa banyak usaha, trauma, sakit, was-was, bayangan kelam, ahhh… sulit.. sulit… asli sulit.., padahal gak muluk-muluk, ah sudah lah.. let it flow, let it blow, let it be.. langkah pertama dan terakhir ku berserah diri pada Dia yang Maha Menentukan. Hanya doa-doa dan doa yang bisa.. mudah-mudahan langkah gue gak salah. Dear Allah… jangan lupa doa ku yang satu itu dikabulkan yaak.. 🙂

————-8<—-Cut Here————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: