Lentera

Oktober 27, 2009

Semalam sekitar pukul setengah dua belas malam ketika gue sedang asyik menghabiskan malam panjang setelah lelah beraktifitas rumah di hari Minggu dengan memaksa mata untuk menatap televisi, tiba-tiba suasana dikejutkan dengan padamnya listrik, benar-benar gelap, mungkin kalau hanya MCB yang njepret keadaan masih sedikit terang, yaah minimal remang-remang pudar lah, tapi kali itu benar-benar gelap, gue yang masih terduduk dengan menggenggam seonggok remote tivi yang sekilas langsung terpikirkan adalah “apakah seperti ini rasanya di alam kubur yang sepi, sunyi, gelap tidak ada yang menemani, apakah di alam kubur hanya duduk termenung menyesali dosa, atau seperti apa?”, gue mikir bener juga surat Al Ashr “Demi Masa…Sesungguhnya Manusia Kerugian..” Sudah seharusnya gue mempersiapkan, karena orang hidup itu apa sih yang dicari? apa sih yang ditunggu? kalau bukan kematian yang sudah pasti kedatangannya walaupun tak tentu waktunya.

Duduk berdiam dikegelapan gak selamanya gue bisa betah, gue cari senter dekat rak televisi, dan selanjutnya gue mencari lentera yang selama ini biasanya gue nyalakan ketika listrik padam, Selama ini asal padam listrik gue lah yang selalu sibuk mencari lentera itu, mungkin dan sepertinya karena gue yang tidur paling larut malam.

26102009432Yak.. inilah lentera yang selama ini gue sulut ketika listrik padam, kenapa harus lentera itu? **pertanyaan bagus**, secara teknis lilin yang menggunakan casing dengan yang tidak menggunakan casing jelas berbeda, dengan casing sang lilin dapat menyala dan bertahan cukup lama karena sistem ventilasi pada lentera yang diunggulkan, beda halnya jika lilin berdiri sendiri tanpa casing, api nya mudah terkoyak yang dengan sedikit hembusan seketika bisa padam, dari segi keamanan lilin yang menggunakan casing jauh lebih aman, seperti halnya singa dalam sangkar mengaum-aum dibanding dengan singa yang mengaum-aum diluar sangkar πŸ˜€ , ya itulah Api yang kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan.

Alasan lain mengapa harus lentera mungkin karena gue suka ketika listrik padam kegiatan gue cuma memperhatikan gerak api dalam lentera yang seakan memberikan ketenangan dan melihat keindahan cahaya yang berpendar disekitar lentera itu seperti melihat harapan, apalagi dengan suasana yang sangat mendukung seperti dingin, sunyi, senyap, semakin syahdu menatap romantis sebuah lentera. Tapi gak tau kenapa juga asal gue liat lentera ini waktu listrik padam gue selalu inget Ayat Allah surat An Nuur ayat 35 :

35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35)

Gue akui Allah memang pujangga Maha Hebat, kata per kata memberikan kesejukan dihati. Gue gak bosen-bosen memproyeksikan Ayat Allah yang satu ini dalam imajinasi gue, apalagi sampai pada potongan ayat “Cahaya di atas Cahaya…” disitu gue merasakan titik kulminasi dari sebuah esensi Allah yang Maha Besar **Subhanallah**, mungkin hal ini lah penyebabnya seseorang yang mencari ilmu dituntut untuk menikah agar selain menjalankan sunnah Rasulullah SAW juga supaya ia tidak larut dalam Mabuk Cinta kepada Allah (wallahualam bishawab).

Dear lentera, teruslah kau terang, teruslah kau menghangatkan, genggam kuat harapan, dan gapailah masa depan.

Cerita sedikit :

Berbicara soal lentera, pelita, gelap, cahaya, redup, terang, erat kaitannya dengan institusi negara yaitu PT PLN, ada cerita dari temen gue yang dulu duduk sebangku waktu di STM dan sekarang dia kerja di Natar daerah Lampung PT PLN. Dia bercerita bahwa dia pernah mencoba menagih (on site) para pelanggan PLN yang ada tunggakan-tunggakan masalah pembayaran listrik, kata dia ketika penagihan pada seseorang pelanggan, seusai si pelanggan membayar dia bilang ke temen gue “Mas…Mas…. Kenapa sih PLN suka matiin lampu seenaknya? walaupun kita ini bayar nunggak khan yang penting bayar!!, trus gimana perasaan pelanggan-pelanggan yang sudah bayar tepat waktu??, orang-orang sini mah udah bosen sama kelakuan orang PLN yang suka matiin lampu seenaknya, klo udah di matiin lampunya orang-orang sini palingan cuma bisa ngatain “Ahh…Monyet lah orang PLN… Main Matiin Lampu aja… Emang Dasar An**** !!! !@#$%^&* “, temen gue langsung membalas demi membela kehormatannya sebagai pegawai PLN “Yaa.. kalau itu sih terserah bapak.. Tapi bapak pernah gak? ketika lampu hidup seperti sekarang ini bapak berterima kasih sama PLN ?”. Sebuah Pledoi yang sempurna bukan???Β  πŸ˜€

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: