+1 atau -1

September 22, 2009

Gue bingung, kenapa setiap event ini orang banyak membanggakan, lalu memberikannya “Selamat”. Sebenernya gue juga suka memberikan “Selamat”, tapi dibalik kata “Selamat” terselip berbagai harapan, dan tersirat berjuta kata “Semoga”. Memang tidak ada tuntunannya untuk memperingati hari lahir seseorang, tapi menjadi suatu kebiasaan masyarakat di Dunia untuk mengucapkan kata “Selamat” kepada seseorang yang saat itu bertepatan dengan hari lahirnya. Yang pasti kata “Selamat” yang gue lontarkan ke orang lain, sudah pasti dan sudah tentu berisi Do’a, dan Harapan.

Ingat hari lahir, ingat tanggal lahir, ingat bulan lahir, dan ingat tahun lahir, yang langsung terlintas pada sebuah otak bodoh pun pasti bayangan seorang “Ibu”, Lalu bagaimana tanggapan seorang anak yang saat itu adalah hari ulang tahunnya?, apakah ia langsung berterima kasih pada orang tua nya terutama Ibu yang sudah melahirkannya?, pertanyaan itu cukup bila harus dijawab pada diri sendiri. Sekarang gue semakin bingung, harus bagaimana menyikapi sebuah event perulangan tanggal lahir, Ibu sudah tiada, padahal banyak hal yang ingin gue sampaikan, banyak hal indah yang ingin gue ceritakan pada Ibu, banyak kejadian yang ingin gue gambarkan ke Ibu, banyak perubahan-perubahan gue yang harus gue sampaikan ke Ibu, Curahan hati yang gue damba-dambakan tertuang pada seorang Ibu. Harapan dan Keinginan itu tinggallah kenangan, Harus gue kubur dalam-dalam, harus gue lempar jauh-jauh, harus gue telan pahit-pahit, harus gue tahan walaupun itu sakit.

Gue pengen sedikit cerita sebuah sejarah lahirnya seorang anak yang kini dewasa menjadi seorang pembangkang yang nyata.  Cerita ini insya Allah benar adanya, dan semuanya masih tercatat dan tersimpan dengan baik. Dua puluh satu tahun yang lalu, tepat tanggal 22 September pada tahun  1988 atau 10 Shafar 1409 Hijriah, bertepatan pula pada hari Kamis Pon, gue dilahirkan di Kota Pahlawan yaitu Surabaya (waktu itu karena Bapak gue dipindah tugaskan ke kantor Cabang Surabaya selama 2 tahun), Alhamdulillah kebetulan dilahirkan di Rumah Sakit Bersalin Siti Aisyah Surabaya yang beralamat di Jl Pacar Keling no 15a, menurut Bapak gue , Dokter yang menangani proses kelahiran adalah Dr. Hariyadi, beberapa menit sebelum kelahiran gue, datanglah Mbah Putri, ibu dari Bapak gue dan gue lahir sekitar pukul 22.00 malam hari, Semua orang menyambut dengan senang, terlebih-lebih ibu gue, yang sudah menantikan kehadiran gue dihadapannya. Sebenarnya ada sedikit kejadian yang mungkin akan menjadi penentu hidup gue jika itu terjadi, beberapa saat setelah kelahiran gue, setelah di adzankan, lalu dimandikan, ada seorang bapak-bapak yang saat itu istrinya juga sedang melahirkan, dan waktu kelahiran anaknya dengan kelahiran gue hanya selisih beberapa menit (lebih dulu anaknya bapak itu), Bapak-bapak itu menurut Bapak gue ia bernama Priyo. Pak Priyo datang menghampiri Bapak gue dan bertanya “Pak! Anaknya laki-laki atau perempuan?”, Bapak gue menjawab dengan bangganya “Anak saya laki-laki Pak!”, tak lama Pak Priyo pun berkata “Pak! Bagaimana kalau anak saya dan anak Bapak, kita tukar saja? anak saya perempuan Pak! dan anak Bapak laki-laki, bagaimana kalau kita tukar saja?”, Bapak gue membalas pertanyaan aneh tersebut “Lho…Kenapa di tukar?”, Pak Priyo pun menjawabnya dengan mencoba menjelaskannya “Iya Pak…Anak saya semua kebetulan ada 3 orang, ditambah 1 orang ini yang baru lahir, dan semuanya itu perempuan Pak!, saya mendambakan anak laki-laki tapi lagi-lagi yang lahir seorang perempuan lagi..kira-kira bagaimana Pak tawaran saya?”, Bapak gue menjawab dengan sedikit nada tinggi “Wah..Maaf Pak, Anak bapak sudah 4, ini anak saya yang pertama, dan yang lahir laki-laki, dia akan menjadi putra mahkota saya…Maaf, saya gak mau.!!”, gue gak tau kalau saja Bapak gue mengabulkan permintaan Pak Priyo itu (>.<),

Menurut Bapak gue, pemberian nama gue ketika itu berlangsung pada hari Minggu malam Senin, kebetulan proses pemberian nama pun menggunakan musyawarah, yang hadir adalah sanak saudara dari Jogja, salah satunya  Almarhum Pakde gue beserta rombongan pengajiannya (kebetulan Almarhum Pakde gue sebagai pemimpin dan pembina dakwah). Sebelum kelahiran gue, ibu gue udah menyiapkan nama, kalau kata Bapak gue, dulu itu sepakat kalau anaknya laki-laki Bapak gue yang kasih nama, kalau anaknya perempuan, ibu gue yang kasih nama. Ternyata setelah kelahiran gue, Bapak gue malah belum menyiapkan nama buat gue karena yang lahir adalah anak laki-laki, tapi ibu gue udah menyiapkan nama tapi tidak jadi dipakai nama yang udah ibu gue persiapkan karena anak yang lahir adalah laki-laki 😀 dan nama yang sudah dipersiapkan oleh ibu gue jika anak yang lahir perempuan adalah “Eko Yuli Lestiani” , sempet tertawa juga waktu dulu ibu gue ngasih tau ke gue klo gue mo diberi nama itu jika anaknya yang lahir adalah  perempuan, gue juga gak ngerti, ibu gue kalau ngasih nama itu bisa bagus-bagus, salah satunya sepupu gue, dia diberi nama “Yulinar Rhomadhoni”, ada lagi tante gue yang ibu gue beri nama “Joyce Marlina”. Takdir tinggalah takdir, yang lahir adalah anak laki-laki. Waktu itu hari Minggu 4 hari setelah kelahiran gue, sekitar pukul 20.00 waktu Surabaya semua berkumpul untuk menentukan nama gue, Bapak gue mengusulkan ide nama untuk pertama kalinya dengan nama “Hajar Mulad Wardoyo”, tapi ide nama itu sedikit disanggah oleh Pakde gue, menurut beliau artinya itu adalah ‘Batu Melihat Hati’ , yang lain pun mencoba mencari ide nama dan muncullah ide kedua yaitu dengan nama “Muhammad Tabrani Al Farisi” entah dengan alasan apa Pakde gue kurang setuju, mungkin karena penempatan kata “Al” karena itu hanya bisa dimiliki oleh Allah yang Maha Memiliki sifat-sifat yang baik, setelah sekian lama perundingan akhirnya muncul ide nama untuk yang ketiga yaitu “Fauzan Muhajar” dan lagi-lagi Pakde gue kurang setuju (maklum, beliau cukup mahir bahasa arab baik nahwu dan sharaf nya), tapi seketika Bapak gue mengucapkan sebuah nama dengan spontan “Faiza Muhajir”, dan Pakde gue pun juga seketika langsung berkata “Nah…itu aja, bagus itu…”, kalo menurut Pakde gue artinya “Seorang yang gagah, datang karena berhijrah”, dengan harapan bisa menjadi seorang yang tangguh, dan berhijrah atau berpindah dari suatu kondisi yang buruk menjadi kondisi yang baik, ataupun dari kondisi yang baik menjadi kondisi yang jauh lebih baik (semoga..Amiin).

Dulu sekitar dua tahun sebelum Ibu gue meninggal dunia, gue bertanya ke Ibu gue dengan sebuah pertanyaan, yang mungkin bagi sebagian orang pertanyaan itu bisa dibilang jarang sekali terlontar dari mulut seorang anak kepada Ibu nya. Pertanyaan gue sederhana “Bu…Apa sih yang Ibu inginkan dari saya, supaya balas budi saya bisa tunai terselesaikan?”, lalu ibu gue menjawab dengan penuh senyuman dan matanya yang sedikit berkaca-kaca “Ibu gak menginginkan apa-apa dari mu, Ibu gak ingin uang, Ibu gak ingin mobil, Ibu gak ingin dibelikan rumah, Ibu gak ingin dibelikan perhiasan termahal sekalipun, Ibu cuma minta dan berharap kamu menjadi anak yang Shalih, cukup dengan itu Ibu sudah senang”. Awalnya memang gue ingin tau sebenarnya apa yang Ibu inginkan dari gue, mungkin dengan mengabulkannya, dengan membelikannya akan membuat hatinya bisa tersenyum, ternyata jauh dari bayangan gue, gue fikir beliau menginginkan sesuatu yang bersifat materi, ternyata tidak, malah sebaliknya, ketika kata-kata itu yang gue peroleh seketika muncul pertanyaan “Mampukah saya? sanggupkah saya? mungkinkah saya?”. Menurut gue itu bukan hanya sebuah harapan dari Orang Tua, tapi bisa lebih dari itu, adalah Amanah yang sangat berat, Amanah tetaplah amanah, apalagi yang memberi amanah telah meninggal Dunia. Ada kata-kata terakhir yang bisa membuat gue semangat, dan bisa buat gue semakin terjaga adalah ketika gue lagi menemani ibu gue yang sedang terbaring sakit di rumah, tiba-tiba ibu berkata dengan sedikit lantang dan sambil menangis “Sa..Ibu bangga sama kamu, Ibu bener-bener bangga sama kamu..” ahh..gue gak bisa menahan tetesan air mata waktu itu. Cukup tertunduk dan berazzam dijiwa untuk selalu setia pada sebuah “Amanah”.

Mau itu +1 ataupun -1 Harapan gue gak muluk-muluk, Semoga umurku kian berkah…Amiin

Gue memang bukanlah yang terbaik, Tapi dalam setiap detik gue, sedikitpun tak pernah lupa untuk selalu menjadi yang terbaik.

Iklan
%d blogger menyukai ini: