Gunung Gede

Juli 24, 2009

Gue gak pernah mengerti entah hasrat dari mana sampai-sampai gue meng-iyakan ajakan temen gue buat ikut nanjak naek Gunung, dan kali ini sasarannya adalah Gunung Gede, mungkin karena gue blom pernah tau suasana dan sensasi ketika berada di puncak Gunung Gede. Banyak sudah orang melarang gue buat naek Gunung, dari Bokap, Adek gue, teman sekalipun, sebenernya sih gimana yaa, gue sendiri agak kurang suka buat naek gunung, cuma satu hal yang bikin gue gak bisa nolak buat naek gunung yaitu pengalaman spiritual yang gue rasain bener-bener gak ada yang bisa menggantikan posisinya ketika gue inget waktu naek Gunung Ciremai beberapa waktu yang lalu. Sebelum berangkatpun gue udah izin dan minta doa restu ke Bokap, ke adek, juga ke kerabat dekat, Gue juga sempat menyampaikan beberapa password email, facebook, blog, dll ke adek gue. Manusia mana yang tau akan takdirnya kelak šŸ˜€

Perjalanan dimulai pada hari Jum’at tepatnya tanggal 17 Juli 2009, semua peralatan, perlengkapan, dan makanan pun telah dipersiapkan, Gue dan ke 14 temen gue yang lainpun berangkat bareng menuju cibodas dari terminal Kampung Rambutan sekitar pukul 00.30 , suasana cukup membuat jantung terpacu sedikit karena diluar hujan cukup deras, sebelum berangkat Bokap berpesan ke gue, klo hujan naek gunungnya dibatalkan saja. Tapi kali ini cuma ada antara gue dan Allah, semuanya benar-benar gue pasrahkan, udah gak ada daya dan upaya lagi, kalau toh Allah menghendaki maupun tidak menghendaki itu semua benar-benar hak nya Allah, Gue naek gunung juga gak ada maksud buat bersenang-senang semata, apalagi bermaksiat sedikit pun. Gue dan ke 14 Temen gue yang lainnya Akhirnya sampai pada start Gate menuju Gunung Gede melalui jalur Cibodas sekitar pukul 03.00, perut agak terasa lapar karena memang sejak sorenya gue blum makan akhirnya gue putuskan untuk mencicipi kudapan ringan warung dekat start Gate Cibodas Taman Nasional Gunung Gede. Kali itu kudapan yang gue cicipin adalah Nasi yang cukup banyak, berikut dengan Ayam kalio, dan Tahu goreng, serta sedikit kuah santan sekedar untuk menambah rasa di waktu Dini hari. Setelah gue mencicipi kudapan, gak lama seorang Bapak pendamping Ibu pedagang nasi itu menyuguhkan gelas bening kecil bercorak bunga berisikanĀ  Air hangat, air hangatnya itu pas banget terasa dibibir, apalagi ketika air itu memasuki rongga pencernakan, ahh enak banget, temen-temen gue pun mengakui airnya bener-bener hangatnya beda, entah sugesti atau memang benar adanya. Kudapan yang udah gue cicipin cukup merogoh kocek Rp. 7000,- saja, kebetulan recehan dikantong celana gue cuma ada Rp. 8000,-Ā  dan sisanya Rp. 1000,- gue belikan Donat kampung yaitu donat gula jawa, lumayan dengan Rp. 1000,- dapat 2 buah donat kampung.

Perjalanan menuju puncak Gunung Gede pun dimulai pada pukul 04.00 Pagi hari, rasanya cukup lelah, sepulang dari kerja, lalu gue kuliah, setelah kuliah gue langsung berangkat untuk melakukan perjalanan panjang menuju puncak Gunung Gede, tapi karena gue teringat akan sejatinya tafakur alam, rasanya badan ini bugar kembali, diri ini pun semakin termotivasi untuk meningkatkan ketajaman batin dan kelembutan hati. Perjalanan pun dimulai bersama, ketika sampai pada Pos pertama jalur Cibodas, kami semua melapor dan meminta izin untuk melakukan pendakian, sebenarnya agak menyalahi aturan karena surat booking diizinkan untuk tanggal 19 Juli, tapi kami semua nekat untuk tetap naek pada tanggal 17 Juli karena mengingat waktu yang sangat sempit, ntah mukjizat dari mana ternyata si penjaga pos pertama tidak memperhatikan tanggal booking pendakian, mungkin karena waktu yang dini hari telah membuyarkan roh idhlofi nya, sehingga konsentrasinya pun sedikit terganggu dan akhirnya penjaga pun memberikan izin kami untuk melakukan pendakian. Setapak demi setapak pun gue lalui perjalanan bersama teman-teman juga ditemani dengan sorotan lampu senter yang tepat berada di kepala, terkadang juga beristirahat karena kelelahan dengan sesekali mengambil airĀ  minum dalam botol maupun dalam jerigen air, menurut gue jalur pendakian melalui Cibodas tidak terlalu melelahkan dibandingkan pendakian ke Gunung Ciremai, selain karena jalurnya yang cukup landai, sehingga tidak terlalu emosi ketika melawan gaya gravitasi, juga karena sudah banyak rambu-rambu yang menunjukkan jalur pendakian, selain itu banyak pula orang-orang yang ikut mendaki, Gunung Gede tergolong Gunung yang paling ramai didaki, jalurnya pun banyak tanda-tanda seperti halnya sampah kecil berupa bungkusan permen, sebenarnya agak mengganggu pemandangan, tapi sangat membantu juga sebagai tanda-tanda jalur pendakian (sejujurnya gue gak pernah setuju bila gunung harus dikotori dengan sampah-sampah walaupun wujud sampah itu kecil). Nggak lama pendakian berlangsung, dibalik rimbunnya pohon-pohon dan semak belukar terdengan Adzan Shubuh memecah keheningan, sejenak gue pun terdiam menikmati adzan Shubuh dari kesunyian hutan. Masalah Sholat gak perlu lagi gue diingatkan, karena sudah semestinyalah manusia yang kotor ini selalu merintih dan mengemis kasih pada Allah Sang Khaliq.

Waktupun semakin cepat melaju, cahaya mulai terlihat cerianya, langkahpun semakin gue pacu karena cahaya kini mencukupi indra pengelihatan gue. Pendakian pun berlangsung susul menyusul antara gue dan ke 14 Teman gue maupun antara kami dan para Pendaki lain yang sesekali beristirahat bersautan. Hmm…ternyata cukup melelahkan, temen-temen gue pun sering kali beristirahat, mungkin karena mereka yang masih hobby mengkonsumsi siwak orang kafir (rokok), atau mungkin karena berat badan mereka yang kian bertambah karena kurang berolahraga, atau mungkin hanya sebuah syndhrome pendakian yang terjadi, entahlah, tapi kali itu gue emang bener-bener masih bersemangat untuk selalu melaju mendaki Gunung Gede. Ceria…ya satu-satunya rasa yang selalu menghiasi perjalanan gue dalam pendakian, gue pun gak menyia-nyiakan pemandangan gratis yang Allah sajikan secara cuma-cuma. Beraneka ragam tumbuhan seperti anggrek bulan, pakis haji, pohon paku, anthurium, putri malu, semanggi, kayu putih, juga beraneka ragam binatang seperti burung jalak, burung puyuh, ayam hutan, dll semua ada, Cukup asri memang hanya saja sampahlah yang telah membuat keindahan sedikit memudar. Menurut gue jalur Cibodas sangat ramah bila didaki oleh para pendaki dari kaum hawa, benar-benar landai, juga berbentuk tangga karena sudah disengaja dibuat oleh pengelola Taman Nasional Gunung Gede, jadi sangat terbantukan dari bentuk jalur yang berundak-undak. Sumber air pun tak jauh dari jalur pendakian. Dalam perjalanan pendakian pun kian terdengar suara gemercik air berkata sejuk.

Tak terasa ternyata gue mendaki terlampu cepat dan terlalu menikmati alam sampai-sampai ke 14 temen gue pun tertinggal jauh dibelakang, dan akhirnya gue mencoba menunggu mereka dengan duduk dekat pendaki lain yang sedang menggelar tendanya. Gue tunggu 5 menit, 10 menit tak kunjung timbul sampai pada akhirnya gue tertidur ditengah-tengah jalur pendakian, sampai pada akhirnya gue tersadar sekitar 30 menit berlalu dan gue berdiri kembali terus melanjutkan perjalanan pendakian ke Puncak Gunung Gede, ternyata di depan ada salah satu temen gue yaitu Robi, dan gue pun berjalan bersama Robi. Setelah beberapa lama mendaki jalur pendakian Gunung Gede, gue disuguhkan keindahan pemandangan Air Panas dan tak lama Robi pun datang menyusul, tapi dia datang tanpa membawa tasnya, sambil gue menikmati hangatnya air dan menikmati pemandangan sekitar, gue tanya ke Robi “Bih…tas lo mana?”, Robi pun menjawab “Oiya..lupa gue, Ntar deh…”, hmm…gue fikir mungkin karena dia lelah membawa tasnya, gue pun sempat mengambil video suasana sumber air panas di Gunung Gede. Cukup lama gue berada di sumber air panas Gunung Gede. Gue pun melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak Gunung Gede, perjalanan semakin lama semakin hening suasana, semakin sepi pendaki lain, dan udarapun semakin dingin menusuk, tapi gue tetep jalanĀ  menuju puncak Gunung Gede walaupun sesekali gue terduduk untuk melepas lelah sejenak lalu gue segerakan kembali pendakian karena jika berdiam diri terus untuk beristirahat, badan semakin terasa kedinginan.

Selama dalam perjalanan pendakian gue yang sendiri dan sunyi, gue juga gak ngerti dari mana asalnya, tiba-tiba gue berfikir akan kehidupan dunia gue, yang sering canda tawa, yang sering lupa apakah dalam tawa gue itu Allah pasti meridhoi atau murka pada gue. Gue juga berfikir akan pekerjaan gue, yang tidak pernah luput dari masalah, dan beratnya beban kerja yang setiap hari dikejar akan deadline, walaupun sering kali gue selesaikan dengan tepat waktu, tapi antara pekerjaan dan jumlah tenaga menurut gue tidak seimbang, tapi kali itu gue bisa menerima dalam keheningan alam, lalu setelah fikiran tentang beratnya pekerjaan berlalu, kini muncul fikiran yang lain yaitu mengenai takdir Allah, baik itu jodoh maupun umur yang erat kaitannya dengan kematian, untuk masalah yang satu ini gue udah gak ada tenaga, yang ada hanya asa , tapi gue pun selalu mencoba memikirkan apa dibalik takdir Allah itu, bagaimana takdir itu bekerja, sampai pada akhirnya gue diperlihatkan daun kering yang jatuh dari atas pohon secara perlahan mendekati tanah, disitu gue mulai menghentikan langkah gue untuk sejenak berfikir, dan takdir itu memang layaknya daun yang jatuh dari pohon, yang tidak pernah tau kapan ia akan jatuh, dari mana dia jatuh, kemana dia akan jatuh, dengan apa dia jatuh, lalu apa jadinya setelah ia jatuh. Ya gue cuma bisa berfikir dan mengambil pelajaran, ternyata jalannya takdir itu sangatlah singkat dan gue harus menerima apapun yang Allah berikan dan Allah tentukan, baik ? mungkin bagi kita, tetapi tidak bagi Allah, buruk?Ā  mungkin bagi kita, tetapi tidak bagi Allah. Jadi percayakan semuanya akan segala takdir baik itu Rizqi, Jodoh, dan Kematian. Gue pun sesak nafas sejenak, dan gak terasa air mata pun menetes cukup deras dari mata gue, selama perjalanan gue cuma bisa memohon ampun akan segala sifat dan sikap gue yang berlebihan dan tiada guna, pandangan gue pun kini menunduk selama perjalanan pendakian, ternyata diri ini benar-benar sangatlah lemah, cukup Allah mengubah takdir manusia bisa binasa. Gue coba menenangkan diri, gue coba membangun jiwa, secara spontan ada sebuah kata yang paling gue benci mungkin dari saat itu dan gue berharap hingga selamanya yaitu gue membenci kata “khilaf”.

Tak terasa perjalanan gue hampir mendekati puncak, tapi mata gue tak kunjung menemukan ke 14 teman-teman gue menyusul, sedikit sedih, karena logistik kebanyakan berada pada rombongan ke 14 teman gue, untung gue berbekal cukup roti dan beberapa mie instan mentah beserta setengah botol air mineral. Ketika gue agak cukup jauh mendekati puncak, gue bertemu dengan 3 orang pendaki, mereka bertanya ke gue, “Sendirian lo?”, gue bilang “Nggak Mas…ada temen dibawah 14 orang lagi, cuma kok di tungguin dari tadi gak muncul-muncul yah..?”, “oOo…hmm..”, lalu gue pun mencoba mencari peruntungan “Mas…gue ikut barengan kelompok lu aja yaak? boleh khan? gue takut ntar temen-temen gue gak ketemu, soalnya yang bawa tenda sama logistik ada di mereka!”, “Oh..iya…ayo gak apa-apa, barengan aja kita, lu ada air gak? nih gue ada air..”, “ada mas..ada…”, mata gue pun sedikit berkaca-kaca ternyata di Gunung itu semua orang bisa menjadi benar-benar saudara, dan gue berfikir seharusnya mau itu di kota, di desa, ataupun dimana saja, manusia itu harus saling merasa bersaudara. Tak lama gue diajak naek bareng mereka menuju puncak Gunung Gede, Sesampainya diatas, gue diajak buat ikut bareng menuju tempat para pendaki menggelar tendanya, “Ayo Mas…ikut bareng kita aja, nge-Camp bareng….ayo!”, “mMmm..kayaknya nanti aja deh Mas…gue ntar nyusul aja deh klo emang temen-temen gue bener-bener gak muncul, Mas nge-Camp dimana?”,”Gue nge-Camp di tower, ya udah klo gitu, gak usah sungkan-sungkan mas klo mau nyusul, ok? ditunggu yaa…”,’Ok mas….terima kasih banyak, pasti gue nyusul deh klo temen-temen gue gak muncul-muncul”.

Waktu terus berlalu sampai gue tertidur dibibir kawah Gunung Gede, badan lelah banget, sampai-sampai aroma belerang pun gak sama sekali mengganggu tidur gue, ternyata gue tertidur dibibir kawah sekitar 1 jam setelah jam tiba gue di puncak Gunung Gede sekitar pukul setengah dua siang, badan gue mulai kedinginan, gue keluarkan cairan darurat dari dalam tas yang udah gue persiapkan, karena badan sudah lemas, jari-jari tangan maupun telapak tangan terasa kebas, ba’al, gak terasa lagi tersentuh, mata pun mulai seringkali terasa kunang-kunang. Gue mencoba mendudukkan badan, dan berdiam diri sejenak sambil sesekali melihat-lihat apakah salah satu dari ke 14 temen gue ada yang muncul atau tidak. Ternyata sekitar jam setengah lima sore Robi pun muncul, ahhh…lega juga, ternyata mereka datang, hff….mereka datang dengan gaya yang biasa seakan tidak terjadi apa-apa, dalam fikiran gue berarti sudah tidak ada masalah lagi dalam perjalanan, gak lama 4 orang lagi muncul, lalu kami ber enam berangkat kembali menuju tower setelah mengambil gambar pemandangan melalui kamera milik Robi.

Setelah sampai pada tower pinggir kawah Gunung Gede, kami berenam duduk menunggu teman-teman yang lainnya menyusul, sekitar pukul 7 malam temen-temen gue yang lainnya akhirnya muncul semua, Egi bertanya pada Robi “Bih…Paijo mana? ada kagak?”, Robi bilang “Nih..Paijo ada, Gak kenapa-kenapa dia”, Egi bilang sambil mendatangi gue “Ahhh…Jo’…gimana lu Jo’…gue udah panik nih,…..Gue klo gak nemu lu disini gue udah lari kebawah cari TIM SAR, ya udah lah Jo..yang penting lu gak kenapa-kenapa, salaman dulu dah Jo”, gue bilang “Iya gi…sori, gue jalan terus, istirahat gue sedikit banyak jalannya, gue sampe atas jam setengah dua gi..!! sori..!!”, Adit bilang “Wah…lu Jo…parah lu Jo…asli Parah lu…udah bikin anak-anak gak semangat lagi buat Nanjak! anak-anak pikirannya udah yang kagak-kagak, gue mikirnya lu jatoh di tempat air panas tadi, asli parah lu Jo”,”Iye dit…Sori, abis gimana dit, klo gue banyak diem nungguin lu, badan gue yang kedinginan, jadi mending gue jalan terus aja deh…sori-sori, berarti sekarang semangat lagi khan? hehehe…sori yaa..”, cukup terharu, kepala gue diusap-usap ma temen-temen, ada yang langsung menjabat tangan gue. Duh serba salah gue….dan ternyata Robi meninggalkan Tas itu bukan karena lupa, tapi karena emang rencananya istirahat dulu di sebelum air panas untuk makan bareng dan istirahat tidur 2 jam, tapi gue gak dikasih tau, ya sudahlah, berarti sudah clear masalah semuanya.

Dibibir kawah saat itu pukul 7 malam lewat sedikit, gue tersandar di tas carrier gue, malam itu ternyata langit menampakkan kemilaunya, bintang bercahaya kemerlap, sesekali gue pun diperlihatkan akan indahnya bintang yang berjatuhan, Ya Allah betapa kecilnya diri ini manakala melihat segala keindahan dan kemegahan alam ciptaanMu. Setelah agak lama beristirahat tepat dibibir kawah Gunung Gede, gue bersama ke 14 temen gue melanjutkan perjalanan kembali menuruni kawah Gunung Gede karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menggelar tenda dibibir kawah Gunung Gede, selain angin yang cukup kencang dan dingin, banyak pula debu vulkanik, juga persediaan air yang sudah sangat menipis yang tidak bisa dipaksakan lagi untuk persiapan makan malam maupun untuk minum. Lokasi camp yang dipilih adalah Surya Kencana, karena memang disanalah lokasi tempat para pendaki menggelar tendanya. Sekitar pukul delapan malam kami bermalam di Surya Kencana, hamparan padang rumput yang sangat luas yang berada diantara pegunungan, angin lembah yang tak henti-hentinya menerjang tenda hingga masuk kedalamnya, gue gak pernah merasakan kedinginan sedingin Surya Kencana kali itu, tidurpun tak nyenyak, bahkan tak jarang gue sering terbangun lalu duduk, gue baru bisa tidur sekitar pukul tujuh pagi hari karena matahari sudah muncul dengan membawa kehangatan yang didambakan sejak malam harinya, kembali gue ditunjukkan betapa nikmatnya cahaya matahari yang menghangatkan ketika kedinginan, dan sejuknya udara ketika panas matahari kian meradang, hanya kata syukur yang bisa gue lantunkan, gue gak bisa membalas budi baik akan rasa cinta dan kasih sayang Allah kepada makhluk yang hina ini, gue adalah hamba, dan DIA adalah Pencipta, Ya Allah gue bener-bener gak bisa lagi berkutik selain hanya tertunduk pasrah dan senantiasa bersujud dan bersyukur atas segala karunia nikmatMu yang tiada batasnya. Gue malu benar-benar dibuat malu oleh Allah atas segala kuasanya tapi kenapa, kenapa gue berjalan diatas muka bumi milik Allah ini dengan kesombongan yang nyata, Astaghfirullah…

Siang hari sekitar pukul setengah satu, gue bersama ke 14 teman gue yang lainnya beranjak dari Surya Kencana untuk melakukan perjalanan pulang menuruni Gunung Gede, tapi kali ini jalur yang dilalui bukanlah jalur Cibodas lagi, melainkan melalui jalur Putri, atau bisa dibilang jalur Cipanas, jalur ini cukup sulit jika dijadikan jalur pendakian menuju puncak Gunung Gede, karena medan yang cukup terjal, berbatu kecil yang cukup rapuh, juga tidak adanya sumber air yang bisa digunakan. Tapi pemandangan alam hutannya cukup indah, udaranya pun sangat sejuk. Alhamdulillah perjalanan menuruni Gunung Gede melalui jalur putri Cipanas lancar, walaupun terkadang kaki ini terasa sangat letih serasa tak lagi mampu untuk menopang berat tubuh dan berat tas carrier yang gue bawa. Perjalanan telah dilalui sekitar 4 jam perjalanan menuruni Gunung Gede melalui jalur putri Cipanas.

Sesampainya dibawah, gue menikmati sedikit kudapan yang ada diwarung, gue mencicipi Nasi dengan sayur sup Ayam beserta telur goreng dadar, dan tidak lupa dengan kerupuk tentunya. Tempe goreng, bakwan goreng, dan Es Teh pun tak luput menemani ketika melepas lelah kali itu. Setelah mencicipi kudapan-kudapan yang tersedia diwarung, gue menyegerakan untuk membersihkan diri di masjid salah satu Pondok Pesantren dekat situ, setelah itu gue Sholat, dan kami semua beranjak dari Cipanas menuju ke Rumah masing-masing. Dan Akhirnya gue sampai dirumah sekitar jam 02.00 dini hari.

Pengalaman itu sangatlah berharga, dan itulah yang gue cari, bukan hanya senang, tapi ada hal lain yang benar-benar gue cari, yaitu ketenangan jiwa yang lurus, yang tak lagi terfikir akan silaunya dunia yang sudah pasti fana adanya, sepulang dari sana cukuplah Allah yang mengetahui segala azam gue. Banyak teman dan saudara yang baru gue kenal melalui perjalanan ke Gunung Gede, gue juga sempat berkenalan di Puncak Gunung Gede dengan seorang yang bekerja di PSN sebagai system developer, dia menghampiri gue, dan mengajak sedikit perbincangan kecil, yang gue suka dari dia adalah pembawaannya yang santai dan teduh, dan ternyata dia juga kenal banyak mengenai STM Pembangunan Jakarta, dia juga pernah bekerja disalah satu perusahaan langganan PSG STM Pembangunan Jakarta, jadi pembicaraan antara gue dan dia pun semakin larut hangat. Mungkin gue akan merindukan Gunung Gede, atau mungkin gue semakin tertarik dengan pesona Gunung yang lainnya, sepertinya iya, gue bener-bener ingin mencari pengalaman berharga demi mencapai derajat jiwa yang damai, mungkin hasrat ini akan berhenti terpacu ketika gue sudah menikah šŸ˜€

5700_107416623179_649688179_2123306_433276_n

5700_107416658179_649688179_2123309_6807640_n

5700_107541698179_649688179_2124742_1445536_n

5700_107541708179_649688179_2124743_4653577_n

Greetz:

1. Allah

2. Father,Brother,Sister,And My Love My Mother.

3. All My Friends.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: