Bank Syariah, Fenomena Apa?

Maret 2, 2009

Awalnya mungkin sekitar tahun 90-an waktu itu gue masih sd, nabung di Bank yang kantornya itu masih di lingkungan sekolah gue, kebetulan waktu itu gue nabung di Bank Muamalat, kalo pada waktu itu sih hanya karena Bank paling deket ma sekolahan gue hehehe…bukan karena Bank yang pertama murni syariah ๐Ÿ˜› jadi selain Bank yang deket sama sekolahan gue juga karena Ibu gue mengajarkan gue nabung hohoho…gue diajarin gimana cara setor tunai, isi form aplikasi slip penyetoran tunai dll, wihhh seneng dah waktu itu bisa nabung sendiri, pas lagi jam istirahat sekolah coba nabung Rp. 2000,- (dua rebu perak) kadang Rp. 1000,- (serebu perak), maklumla jaman gue masih sd uang jajan gue aja cuman Rp. 500,- yang gambar lu lagi nongkrong sembari mesam-mesem di po’on jambu kekekekek….

Dulu banyak orang yang mencibir keberadaan Bank Syariah termasuk gue wakakakak..dulu waktu masih sd anggapan gue Bank Syariah itu gak menguntungkan, klo Bank Konvensional itu jauh lebih menguntungkan, naroh duit berkembang sendiri nah anggapan seperti itu lah yang gue anggap benar dan menguntungkan tapi ternyata sekarang gue tarik semua pendapat gue itu, ternyata Bank Konvensional itu rugi dan merugi, setelah gue mendapat hidayah beberapa waktu yang lalu kantor gue mengadakan Training Perbankan Syariah, awalnya emang gue males banget buat ngikutin tuh training perbankan syariah, secara waktu gue masih smp aja tugas ekonomi kagak pernah gue kumpulin, ngumpul-ngumpul pas deket-deket terima rapot karena buat tambal sulam nilai ekonomi gue yang di ambang kehancuran. Setelah mendapat penjelasan dari para pakar ekonomi syariah diantaranya aduh namanya lupa euyy…beliau lulusan S2 dari Yordania jurusan Ekonomi Syariah, trus juga ada Pembicara yang namanya juga lupa Beliau lulusan S2 jurusan Syariah Universitas Al Azhar Cairo, ada juga pembicara dari Pejabat Bank Muamalat dan Bank Mega Syariah, dari kesekian pembicara yang bikin gue terkesan adalah pembicara dari Bank Muamalat dan Dewan Pengawas Syariah (lulusan Yordania) widihhh…ulasannya itu bikin melotot mata jadi pengen sekolah di Al Azhar Cairo (Fakhryyy….Aisyahhh…kekekekekek….).

Kesimpulan dari gue ngikut training Perbankan Syariah itu yang pertama adalah bahwa menabung di Bank Konvensional itu muthlaq bukan investasi, sementara menabung di Bank Syariah itu adalah 100% investasi menguntungkan..kenapa? sekarang gue mo ulas mengenai Bank Syariah, di Bank Syariah itu transaksi atas dasar kepercayaan dan kesepakatan, klo kita investasi maka bagi hasil (nisbah)nya adalah 60:40, 60 untuk pemilik modal 40 untuk Bank, jadi semisal uang Rp.1.000.000,- diinvestasikan ke Bank Syariah maka jika uang tersebut di gunakan untuk pembiayaan lalu mendapatkan keuntungan dari hasil pembiayaan tersebut sekitar Rp.100.000,-ย  maka keuntungan atau bagi hasil yang diperoleh si investor adalah Rp. 60.000,- dan untuk pihak Bank adalah Rp. 40.000,- jadi secara serta merta rekening anda bertambah Rp. 60.000,- dan sekarang menjadi Rp. 1.060.000,- dan semua pembagian itu diawal sudah jelas akadnya ijab-qabulnya, dan uniknya jika lu sebagai investor di Bank Syariah, lu bisa memberikan amanah kepada Bank Syariah untuk memanfaatkan dana yang lu tabungkan itu misal hanya ke pertanian saja, ke peternakan saja, ke industri pertambangan saja, atau ke industri telekomunikasi saja, jadi dari pihak investor sendiri bisa memprediksi sektor apa yang kira-kira bisa menguntungkan, kalau untung yaa dibagi sesuai nisbah, kalau gak dapet untung apa-apa yaa sama-sama gak dapet apa-apa (profit sharing), nah inilah sejatinya investasi :D.

Lalu bagaimana dengan Bank Konvensional?, hehehe…males gue mo ngomongin kejelekan Bank Konvensional takut ghibah **hayah-so’-syar’i**, klo investasi di Bank Konvensional menurut para investor yang awam di Bank Konvensional itulah sebaik-baik investasi, ehem…ehem…mari kita tilik lebih dalam, klo bicara Bank Konvensional pasti berhubungan pula dengan suku bunga, jika suku bunga sebesar 12% pertahun anggaplah satu bulannya mendapatkan 1% dari keuntungan investasi, Jika investasi Rp. 1.000.000,- maka satu bulannya mendapatkan Rp. 10.000,- , lalu bagaimana jika dari investasi tersebut ternyata Bank mengalami kerugian akibat kredit macet? yang terjadi adalah Bank tetap memberikan bunga 1% perbulannya untuk investor Bank Konvensional padahal sudah merugi, nah hal inilah yang membuat banyak Bank Konvensional collapse, jadi mau Bank konvensional itu untung kek, mau Bank Konvensional itu gak dapet apa-apa kek (impas), mau Bank Konvensional itu rugi kek, pokoknya investor maunya dapet 1% perbulan, kira-kira sama gak investor Bank Konvensional dengan Preman Pasar, yang kerjaannya cuman duduk terima untung jadi…kagak ada usaha apa-apa, waduh klo kek gini mah namanya mental yahudi…hehehe.

Kalau nabung di Bank Syariah untung yang kita dapat adalah bonus dari si Bank Syariah sendiri, jika Bank Syariah memperoleh keuntungan maka nasabah yang menabung juga mendapatkan bonus (keuntungan Bank Syariah yang di bagi) sesuai secara proporsional, lalu bagaimana dengan Bank Konvensional ? yaa…si nasabah tetap mendapat bunga yang telah ditetapkan oleh Bank Konvensional tersebut, sepertinya aroma preman pasar tercium kembali hehehe…

Lalu Fenomena apa sih yang terjadi akhir-akhir ini, kok banyak sekali bermunculan Bank Umum Syariah dari masing-masing Bank Umum Konvensional? hmm…setau gue sih, ada himbauan dari Bank Indonesia kepada banyak Bank Konvensional agar membuka usaha ke arah syariah juga, ternyata himbauan tersebut disambut baik oleh Bank Umum Konvensional, karena dari pangsa pasar perbankan syariah juga cukup menggiurkan =P~ nah akhirnya bermunculan-lah Bank Umum Syariah yang lahir dari Bank Umum Konvensional, sebenarnya selain himbauan, dan pangsa pasar syariah yang menggiurkan, juga terdapat motif syndhrome anak bebek, ada motif gengsi, ada pula motif paranoid terhadap krisis global, tapi dari sekian banyak motif yang paling kuat adalah motif pangsa pasar syariah yang menggiurkan, serta paranoid terhadap krisis global. Bayangkan jika suatu saat benar-benar terjadi krisis global, dan perekonomian Indonesia pun tak bergerak, Bank-Bank Konvensional mulai terasa terbebani dengan suku bunga yang dikeluarkannya, sementara pada Bank Konvensional banyak Kredit macet sana sini, kalau udah kek gini gimana donk? (prediksi gue) mungkin suatu saat nanti Bank Umum Konvensional secara watados-nya akan mengkonversi sistem konvensional menjadi sistem syariah karena ya itu tadi kredit macet sana-sini, terbebani dengan bunga, kalau gue sebagai pemegang saham terbesar pasti lebih berfikir bagaimana mengamankan duit secara aman, dari pada harus dipaksakan dengan sistem konvensional dan yang pada ujung-ujungnya ternyata Bank Konvensional harus di Liquidasi, apalagi lu tau ndiri sifat orang Indonesia itu 90% paranoid addict, Misal ketika gembar-gembor berita di media massa maupun media elektronik tentang Bank Bingbung (sebut saja begitu) akan di Liquidasi karena banyak kredit macet, lalu nasabah pada Bank ABC (sebut saja begitu) kalau para nasabah itu pintar mereka pasti berbondong-bondong mengambil semua isi rekeningnya, karena menyimpan uang dirumah jauh lebih aman dari pada harus di taruh di Bank Konvensional apalagi saat genting sana-sini liquidasi, karena sepengetahuan gue Bank-Bank Konvensional itu gak semua duit miliknya dia simpan sendiri, tapi banyak juga uangnya yang beredar di Bank Konvensional lain (sebutannya adalah Rekening Nostro) nah kalau salah satu rekening nostronya itu di salah satu Bank Konvensional yang hendak di Liquidasi bahkan sudah di Liquidasi apa yang akan terjadi selanjutnya? yupe betul bangett….NjomPLANK, akhirnya Bank Konvensional yang tidak ada gembar-gembor akan di Liquidasi kena imbasnya juga karena Nostro Miliknya ikut dibekukan, sekali lagi NjomPLANK Bung!!! gak bakal NjomPLANK kalo jumlahnya dikit, tapi kalo angkanya mencapai 17 digits waww…..

Nah itulah yang gue tau tentang Bank Syariah hehehe…kalo ada yang salah mohon di koreksi maklum lah, tau Bank Syariah juga karena ikut training, Tapi lumayan lhooo….dari 30 orang peserta training Perbankan Syariah, pas ada ujian gue dapet peringkat 5 dari 30 orang peserta training lainnya, yang kagak ada sangkut pautnya cuman gue doang orang kuli komputer yang lain mah account officer, teller, dkk. Daya serap gue 500% berdasarkan tes sebelum training dibandingkan dengan tes sesudah training Perbankan Syariah…wakakakakak…mantep.

Sekarang bukan lagi gengsi-gengsi_an make Bank Syariah, sekarang juga banyak kemudahan kok pake Bank Syariah, kebanyakan Bank Syariah juga bebas biaya administrasi, pokoknya dari yang nabung, investor, sampe karyawannya insya Allah Barokah ๐Ÿ˜€ tidak ada campur tangan riba, insya Allah halalan Thoyyiban, sekarang Bank Syariah bukan lagi jadi gunjingan, cibiran, tapi menjadi pilihan, yang mengagumkan lagi Bank Syariah sekarang menjadi Life Style…ceh ileehh

Oia sekedar informasi beberapa Bank Umum Syariah terbesar di Indonesiaย  sampai saat ini adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Mega Syariah, Bank Syariah Bukopin (BSB), Bank BNI Syariah, Bank CIMB Niaga (Niaga Syariah), Bank HSBC Amanah, Bank BII Syariah, Bank BRI Syariah, Bank BTN Syariah, Bank DKI Syariah, dan masih banyak lagi ๐Ÿ˜€

Struggle To Re-Establish Khilafah

_psyCHo Original Thinking | Never Crossing In My Mind

Iklan

4 Tanggapan to “Bank Syariah, Fenomena Apa?”

  1. dje Says:

    bank syariah sangat menarik untuk dipelajari. sistem bagi hasil lebih adil jika dibanding sistem bunga,, tapi apakah bank syariah telah menerapkan bagi hasil seperti yng saudara gambarkan diatas? saya rasa belum..
    coba pelajari produk kredit yang ditawarkan bank tersebut,
    saya lihat data BI, jenis pembiayaan yng paling besar itu proporsinya itu adalah murabahah, dimana dalam pembiayaan tersebut telah dilakukan mark up/ margin yng jumlahnya ditetapkan didepan. apa beda penetapan margin diawal, dengan bunga kredit pada bank konvensional?? yang saya lihat hanya ganti nama saja ^^ bukan ganti sistem,,hehe..
    saya sangat benci sistem bunga karena sangat merugikan masyarakat(sistem yang sangat tidak adil), tapi saya menghargai usaha bank syariah tuk berubah, walaupun banyak yang harus diperbaiki dalam pengelolaannya,,
    buku tarekh el diwany klo ga salah yng bjudul membongkar konspirasi bunga bank,,ini buku menjelaskan bagaimana bunga sangat merugikan,, dan bagaimana bank syariah menanggapinya… mungkin bisa menjelaskan lebih detail lagi permasalahan bank syariah..

  2. faiza Says:

    Semua itu memang harus ada awalnya, klo suruh milih konvensional atau syariah pasti tetep pilih syariah khan? Syariah adalah sistem yang berdasarkan atas asas saling percaya.

  3. seseorang Says:

    wah mas Faiza, sama banget..
    dulu waktu di SD Alazhar saya juga nabung di Muamalat.. sekarang pas pengen nabung lagi bawaannya pengen ke Muamalat, tapi dari hasil google koq banyak nada sumbang yah (mainly soal pelayanan dan jaringan)
    semoga saya menemukan jawaban2 atas pertanyaan2 saya, dan menemukan bank syariah yang ideal buat saya deh.. trims ya bahasannya..
    numpang lewat…

  4. faiza Says:

    Sip…
    Ayo Ke Bank Syariah ๐Ÿ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: